17 Februari 2012

Biografi Seorang Biasa : H.Ir. Setiadi Reksoprodjo (1921 - 2010)

Judul di atas,"Seorang Biasa", saya ambil dari buku karangan almarhum sendiri berjudul "Refleksi Orang Biasa dalam Sejarah yang Luar Biasa", terbitan Sekretariat DPP-PAKORBA, September 2007. Sebutan "Orang Biasa" untuk dirinya sendiri mencerminkan pribadi yang sangat bersahaja, santun, dan ikhlas, dalam menjalani kehidupannya. Namun di balik sikap dan perilaku yang sangat tenang dan berwibawa, beliau adalah sosok yang sangat konsisten dan teguh dalam pandangan hidupnya. Perjalanan hidupnya melalui 7 (tujuh) jaman, dari periode pendudukan Belanda, pendudukan Jepang, revolusi, kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru, sampai era reformasi, dan akhirnya menuju ke perjalanan akhirnya menghadap Sang Khalik, dipenuhi dengan semangat perjuangan yang tidak ada hentinya.

Yang akan saya tuliskan di sini adalah beberapa cuplikan masa kecil almarhum Bapak Setiadi, yang saya ambil dari buku beliau tersebut, sebagai ungkapan rasa cinta dan hormat saya kepada beliau. Dan semoga dapat menjadi inspirasi, tauladan dan pengobar semangat kita semua untuk menjadi "Seorang Biasa" yang dapat memberikan kontribusi yang "Luar Biasa" kepada bangsa dan masyarakat.


PERJALANAN MENJADI MENTERI TERMUDA INDONESIA

Bapak Setiadi dilahirkan di Kutoarjo (Jawa Tengah) pada tanggal 18 September 1921, sebagai putera pertama pasangan Raden Soekirdjo Reksoprodjo dan Raden Roro Koespirah binti Soemodidjojo. Beliau merupakan cucu laki-laki pertama dari pihak ayah maupun ibu, sehingga pada saat itu merupakan cucu kebanggaan. Selanjutnya, Setiadi kecil berangsur-angsur menjadi sulung dari 12 (duabelas) bersaudara seayah-seibu (5 putera dan 7 puteri), yang lahir berturut-turut dengan selang waktu 2 sampai 2,5 tahun hingga tahun 1944. (lihat : Cuplikan Riwayat Singkat Kel Reksoprodjo, dan Eyang Soekirdjo dan Koespirah Reksoprodjo)

 Anak pertama hingga ke tujuh masih mengalami pendidikan dasar zaman Belanda. Anak ke delapan mengalami sekolah dasar zaman Jepang. Anak ke sembilan meninggal pada usia 3 tahun, sedangkan anak ke sepuluh hingga ke duabelas sepenuhnya produk pendidikan zaman Republik. Sebagai anak/cucu laki-laki pertama, di samping sebagai sulung dari sekian banyak saudara, sejak kecil Setiadi sudah harus belajar supaya, walau agak dimanjakan dan dikhususkan, tetap tahu membatasi diri.

Di usianya yang baru 5 tahun, Setiadi kecil dimasukkan ke "Frobel School" (Sekolah Taman Kanak-kanak Belanda), sedangkan beliau sama sekali belum mengerti bahasa Belanda. Namun, berkat bimbingan gurunya yang orang Belanda dan ramah, beliau dapat mengikuti kegiatan di sana. Tahun berikutnya, oleh ayah beliau (R. Soekirdjo Reksoprodjo), beliau dimasukkan ke Kelas 1 ELS (European Lagere School), yaitu Sekolah Dasar Belanda. Beliau dapat diterima di sekolah tersebut, karena kedua orangtua beliau fasih berbahasa Belanda, walau Setiadi sendiri tidak. Di awal bulan-bulan pertamanya beliau sempat mendapat nilai merah semua di rapornya, karena pemahaman bahasa Belanda yang minim. Namun, karena tidak ada perasaan "minder" dalam dirinya, secara berangsur beliau dapat mengimbangi murid-murid lainnya di semua mata ajaran.

Pendidikan di ELS, lazimnya ditempuh dari kelas 1 hingga kelas 7. Kemudian murid-murid kelas 7 akan mengikuti ujian masuk ke sekolah menengah HBS (Hogere Burger School), yang merupakan masa pendidikan 5 tahun hingga lulus ujian akhir, dan berkesmpatan melanjutkan ke perguruan tinggi. Siswa dapat juga memilih tidak ikut ujian masuk HBS, tetapi secara otomatis diterima di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) selama 3 tahun, dan kemudian dilanjutkan ke AMS (Algemene Middelbare School) juga untuk 3 tahun dengan ujian akhir setara dengan ujian akhir HBS yang 5 tahun masa pendidikannya.

Pada tahun 1932, Setiadi sudah duduk di kelas 6 ELS, dan beliau tinggal di Banyumas. Bapak Soekirdjo Reksoprodjo waktu itu menjabat sekretaris kabupaten. Jumlah murid untuk seluruh 7 kelas di ELS pada waktu itu tidak sampai 70 anak; anak-anak ambtenar dan pensiunan Belanda dan Indo, anak-anak karyawan pabrik gula milik Belanda dan anak-anak ambtenar golongan pribumi. Pergaulan Bapak Setiadi dengan teman-temannya, baik pribumi maupun keturunan Belanda, sangat baik. Tidak ada Inlanderphobie.

Ketika waktu ujian masuk HBS tiba, ternyata dari kelas 7 ELS tersebut, hanya 3 yang akan mengikutinya. Kepala Sekolah menyuruh Setiadi mengkuti ujian, walau waktu itu beliau baru duduk di kelas 6. Setiadi diberi pelajaran ekstra untuk persiapan ujian di sore hari sesudah sekolah. Beliau berhasil lulus ujian, sehingga dapat langsung masuk ke HBS. Dan, sejak itu hingga kelak di perguruan tinggi, beliau selalu menjadi yang termuda di angkatannya.

HBS terdekat ketika itu adalah HBS Semarang, dan atas kebaikan Residen Adriaans, Bapak Soekirdjo Reksoprodjo dipindahkan untuk menjabat Wedana di Kaliwungu, sekitar 20 km sebelah Barat Semarang. Murid pribumi di HBS Semarang hanya sekitar 15% dari seluruh muridnya; selebihnya anak Belanda/Indo dan anak keturunan Cina.

Selama di HBS Semarang, tahun 1933 - 1938, beliau tidak merasakan adanya diskriminasi etnis dalam pergaulan, baik dengan teman-teman sekelas, antara guru dan murid, ataupun pada acara-acara perayaan bersama, seperti ulang tahun atau pertandingan olahraga.

Pada ujian akhir HBS tahun 1938, beliau lulus dengan nilai terbaik. Bahkan dengan nilai rata-rata 8,44 beliau nomor satu untuk sekolah menengah seluruh Jawa Tengah. Maka, terbukalah jalan memperoleh beasiswa masuk ke THS (Technise Hogeschool), yaitu Sekolah Tinggi Teknik di Bandung. Sambil menunggu keluarnya keputusan beasiswa, beliau sempat mengikuti ujian masuk PTT (Post, Telegraaf & Telefon), pendidikan yang tidak memungut biaya kuliah, bahkan selama belajar sudah mendapat uang saku. Beliau sebenarnya lulus juga, tetapi karena sementara itu beasiswa yang dinantikan dikabulkan juga, maka beliau memilih untuk masuk ke THS.

Kurikulum di THS terkenal sangat padat, 6 hari dalam seminggu mulai pukul 7 pagi hingga pukul 13 - 14 siang. Komposisi mahasiswa di THS berbeda dengan komposisi murid di HBS; golongan pribumi cukup berimbang jumlahnya dibading dengan golongan Belanda/Indo maupun keturunan Cina. Ini disebabkan karena lulusan AMS, yang mayoritas pribumi, berpeluang sama untuk diterima di THS. Selama masa kuliah di THS, Bapak Setiadi aktif dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan, seperti BSC (Bandungs Studenten Corps) dan USI (Unitas Studiosorum Indonesienses). Dalam BSC beliau memelihara eksistensi dan kepentingan anggota-anggota golongan pribumi.

Ketika Jerman telah menyerbu ke Hindia Belanda (Mei 1940) dan perang di Pasifik juga mulai mengarah ke Hindia Belanda, Bapak Setiadi sempat berdebat dengan teman-teman Belandanya, tentang penerapan milisi untuk penduduk pribumi. Pemerintah Hindia Belanda tidak menyetujui usul tersebut, dan Bapak Setiadi sependapat dengan golongan "nasionalis" dalam "Volksraad"(=Dewan Rakyat), bahwa hal itu mencerminkan sikap pihak Belanda yang tidak mempercayai rakyat pribumi.

Tiga setengah bulan sesudah peristiwa pemboman di Pearl Harbour (Desember 1941), pertahanan Belanda di seluruh kepulauan Nusantara dapat dipatahkan total. Maka, setelah takluk, pemerintah Hindia Belanda menyerahkan seluruh kepulauan Nusantara dan penduduknya kepada wewenang balatentara Jepang. Dalam waktu singkat dan secara efisien, Jepang berhasil menggantikan semua tenaga-tenaga Belanda dengan petugas-petugas sipil Jepang atau pribumi, dan kehidupan sehari-hari dapat berlanjut secara relatif normal.

Saat itu Bapak Setiadi telah mencapai tingkat "candidaat-ingenieur" dalam persiapan menempuh ujian akhir, dan mendapat gelar insinyur penuh. Namun, setelah tentara Jepang menduduki Bandung bulan Maret 1942, THS ditutup dan tidak diketahui kapan dan bagaimana akan dibuka kembali.
Maka resmilah Bapak Setiadi ketika itu menjadi penganggur. Teman-temannya dari BSC yang Belanda di internir, yang pribumi pulang kampung, yang keturunan Cina sementara berdiam diri. Bapak Setiadi memutuskan tetap tinggal di Bandung. Untuk mengisi waktu, bersama beberapa temannya dari USI, beliau membuka "warung koperasi student", berjual-beli bahan-bahan kebutuhan sehari-hari.

Beberapa bulan kemudian, Dinas Pekerjaan Umum Pusat, yang waktu itu dipimpin oleh Ir Djuanda, membuka kesempatan bagi mahasiswa THS golongan pribumi yang sudah di tingkat akhir, untuk bekerja di Dinas PU, yang sedang kekurangan tenaga akademis akibat hilangnya pegawai-pegawai Belanda. Atas lamaran yang beliau ajukan, Bapak Setiadi ditempatkan sebagai "Insinyur Muda" pada kantor Pekerjaan Umum Daerah Cirebon. Di wilayah Cirebon pada waktu itu hanya ada 2 insinyur lain; keduanya lulusan THS Bandung juga, 4 tahun lebih senior dari Bapak Setiadi, yaitu Ir Pamudji dan Ir Anondo; mereka menjabat Kepala Bagian di PU.

Pada pertengahan tahun 1944, Bapak Setiadi diberi kesempatan mengikuti ujian jabatan untuk memperoleh pengakuan sebagai insinyur penuh. Beliau lulus dan ditetapkan sebagai insinyur penuh pada Jawatan Pekerjaan Umum, dengan kedudukan di Cirebon, diperbantukan pada Kepala Wilayah PU. 

Selama pendudukan Jepang, tidak diperkenankan adanya kegiatan-kegiatan masyarakat kecuali yang diatur oleh pemerintah militer Jepang. Baru pada pertengahan tahun 1945 ada kegiatan yang diprakarsai oleh pemuda-pemuda yang dikirm dari "Markas Angkatan Baru Indonesia" di Jakarta, yang berupa ceramah-ceramah bersifat politik, yang mengobarkan semangat patriotik untuk melawan sekutu. Kegiatan tadi mendapat dukungan resmi dari penguasa militer Jepang di pusat maupun daerah, menjelang pembentukan suatu status pemerintahan sendiri bagi bangsa Indonesia, yang direncanakan oleh Jepang. Sasaran ceramah adalah berbagai eksponen dari organisasi pemuda, dan khususnya eksponen-eksponen pemuda dari instansi dan jawatan setempat. Bapak Setiadi dilibatkan di situ sebagai eksponen pemuda dari Dinas Pekerjaan Umum.

Namun, secara tiba-tiba, pada pertengahan bulan Agustus 1945, status kemerdekaan itu terjadi; bukan berdasarkan rencana Jepang, melainkan berdasarkan proklamasi kemerdekaan yang diumumkan oleh Soekarno-Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945, atas desakan pemuda-pemuda di Jakarta.

Perwujudan status kemerdekaan di daerah-daerah, menurut pengertian proklamasi itu, diserahkan kepada rakyat di daerah masing-masing. Di daerah-daerah "pedalaman" seperti Cirebon, penguasa baru ini tidak segera nyata wujud fisiknya. Menurut pengakuan beliau, sebenarnya tidak seorang pun di daerah, berpengalaman atau mengetahui betul bagaimanakah status kemerdekaan itu, dan bagaimana "pemerintah sendiri" (Self Government) bagi Republik Indonesia yang baru ini harus diwujudkan. 

Pada bulan September 1945 berdirilah API (Angkatan Pemuda Indonesia) daerah Cirebon, berafiliasi pada API di Menteng 31, Jakarta, yang dipimpin oleh Wikana. Anggota-anggotanya di Cirebon adalah pemuda-pemuda berbagai jawatan, khususnya yang telah mengikuti ceramah-ceramah Angkatan Baru Indonesia beberapa bulan sebelumnya; pemuda kereta api, pos, pelabuhan, pemuda-pemuda bekas Seinendan, Heiho dan Peta. Bapak Setiadi dicalonkan dan dipilih menjadi ketuanya, karena sebagai seorang lajang dianggap masih ringan kaki dan mempunyai latar belakang akademis dan pendidikan umum yang terluas di antara yang lain. Tentu saja sulit bagi Bapak Setiadi untuk menolak kepercayaan ikhlas tersebut. Sejak itu Bapak Setiadi dianggap sebagai pemimpin pemuda Cirebon dan dijadikan salah satu inti dari usaha menegakkan Republik Indonesia yang baru itu di daerah karesidenan Cirebon.

Pada awalnya gerakan pemuda di Cirebon berada dalam satu wadah, yaitu API. Namun setelah terbit Maklumat Pemerintah RI tanggal 3 November 1945, yang berisi anjuran untuk dibentuknya partai-partai politik guna menghadapi pemilihan umum, terjadi diversifikasi organisasi pemuda yang berafiliasi pada berbagai aliran politik.

Markas API di Cirebon mengambil tempat di bangunan yang juga dipakai kantor KRI (Koperasi Rakyat Indonesia) Cirebon, dan penyebaran organisasi API ke pelosok-pelosok kabupaten, khususnya kabupaten Cirebon dan Indramanyu, memang banyak dibantu oleh tenaga-tenaga KRI.  Para pimpinan KRI banyak yang aktif di Partai Sosialis, dan di sanalah Bapak Setiadi banyak belajar tentang paham sosialisme praktis.

Pada Kongres Pemuda Indonesia pertama yang diselenggarakan setelah proklamasi, pada tanggal 10 November 1945 di Yogyakarta, API (Jawa Barat), PRI (Jawa Timur), AMRI (Jawa Tengah) beserta 4 organisasi pemuda lain bergabung menjadi Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia). API Daerah Cirebon, mengikuti jejak induknya, juga menjadi Pesindo Daerah Cirebon, dengan Bapak Setiadi sebagai ketuanya.

Mulai bulan November 1945 itu, berdasarkan UU no 1 tahun 1945, di daerah-daerah dibentuk Komite Nasional Daerah, yang berfungsi sebagai Badan Perwakilan Rakyat Daerah Sementara dan bersama Kepala Daerah melaksanakan tugas mengatur rumah tangga daerah. Ketua KNI Daerah Cirebon yang pertama adalah drh Soeparman dari Dinas Peternakan. Tetapi setelah beliau dipindahkan ke departemennya, Bapak Setiadi terpilih untuk menggantikannya sebagai Ketua KNI Daerah Cirebon. Maka sejak akhir November itu, Bapak Setiadi memikul tanggung-jawab rangkap sebagai Ketua Pesindo Daerah Cirebon, Ketua Badan Kongres Pemuda Daerah Cirebon, Ketua KNI Daerah Cirebon, dan Wakil Ketua Dewan Pertahanan Daerah Cirebon.

Pada awal bulan Januari 1946, kedudukan pemerintah pusat RI berpindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Dan pada bulan Maret 1947, ada perintah dari Departemen PU di Yogyakarta, yang meminta Bapak Setiadi dipindahkan dari PU Daerah Cirebon untuk bertugas di Departemen, di Yogyakarta. Setibanya di Yogya, beliau diperkenalkan kepada Menteri PU (ketika itu, Ir Putuhena) dan Wakil Menteri PU (Ir F.Laoh). Bapak Setiadi ditugaskan mengurusi Hubungan Masyarakat Departemen PU; jabatan yang sebelumnya tidak ada.

Sepindahnya beliau ke Yogyakarta, beliau juga melaporkan keberadaanya di Yogya kepada Ketua Pesindo Daerah Yogyakarta dan ke Sekretariat Dewan Pimpinan Pusat Partai Sosialis, yang berpusat di Kotabaru. Beliau kemudian ditarik menjadi salah satu anggota Dewan Pertimbangan DPP Pesindo, yang mengharuskan beliau hadir dalam rapat-rapat pleno DPP.

Mr Amir Syarifuddin, Presiden Soekarno, Panglima Jend Soedirman
Pada bulan Juni 1947, Presiden Soekarno menunjuk Mr Amir Syarifuddin untuk membentuk kabinet baru, setelah Perdana Menteri Syahrir mengundurkan diri. Dalam susunan kabinet yang diselesaikan pada tanggal 3 Juli 1947, dan disiarkan melalui radio, disebutkan nama Ir Setiadi Reksoprodjo, sebagai Menteri Penerangan. Bapak Setiadi sendiri sangat terkejut dengan penunjukan tersebut, dan sempat bingung dengan posisinya saat itu di birokrasi, dan harus berubah haluan menuju kehidupan politik negara.

Umur beliau saat itu 26 tahun. Dapat dibayangkan sebagai anggota kabinet menteri, beliau merupakan anggota termuda dalam usia maupun pengalaman politik praktis. Beliau selalu berkonsultasi dengan Bpk Syahbudin Latif, Wakil Meteri Penerangan, yang jauh lebih senior dari beliau, namun banyak membantu beliau.

Pada periode tersebut, situasi nasional termasuk cukup gawat. Secara intuisi Bapak Setiadi merasa bahwa pemerintah harus segera memberi penjelasan kepada rakyatnya tentang situasi-situasi yang akan dihadapi dan jangan menanggapinya secara panik. Maka, belum sampai 2 minggu menjabat sebagai menteri Penerangan, beliau memberanikan diri untuk berpidato di RRI Pusat, yang intinya menerangkan bahwa :
Pemerintah Indonesia mempunyai dugaan kuat bahwa Belanda mengesampingkan Persetujuan Linggarjati dan akan melancarkan serangan militer besar-besaran menuju ke pusat Republik. Namun, pemerintah berharap hal tersebut tidak membuat rakyat panik. Pemerintah yakin bahwa Belanda hanya dapat menguasai kota-kota besar dan jalan lintasnya, sehingga di luar itu kekuasaan de facto Republik masih dapat dipertahankan. Begitu pula Belanda diperkirakan tidak dapat bertahan dalam posisinya, bila kita dapt mencegahnya menguasai sumber-sumber daya alam yang hendak diandalkan untuk mendanai operasi-operasinya di Indonesia. Keadaan ekonomi Belanda sendiri belum memungkinkannya melakukan perang kolonial di seberang lautan, yang akan memakan dana besar dan waktu lama.


Tulisan saya ini hanyalah sekelumit dari cerita perjalanan hidupnya yang kaya dengan nilai-nilai kehidupan, keikhlasan, istiqomah, kejujuran, keteguhan dalam keyakinan, semangat belajar, dan semangat juang. Banyak yang dapat kita pelajari dari catatan pribadinya dalam bukunya. Buku tersebut sebenarnya dimaksudkan untuk ditulis dalam 3 babak, mengingat panjangnya perjalanan hidup beliau. Sayang, baru babak I yang sempat diselesaikannya, dan mudah-mudahan tim pendukung dalam penulisan buku tersebut akan meneruskan penerbitan buku untuk babak-babak berikutnya, karena catatan beliau merupakan kesaksian nyata dari seorang pejuang.

Semoga jiwa besar, semangat juang, kearifan, kesabaran dan keikhlasan beliau, selalu menjadi inspirasi dan suri tauladan bagi kita semua. Amin YRA.



07 Februari 2012

CUPLIKAN RIWAYAT SINGKAT KEL REKSOPRODJO

(diambil dari buku Biografi Bapak H. Moh Soenaryo H dan Almh. Ibu Oemiyati Soenaryo H)

Bapak Sukirdjo Reksoprodjo bin Atmosedjono dan Ibu Kuspirah binti Sumodidjojo adalah eyang kakung dan eyang putri kami, yang dahulu pernah tinggal di Jalan Cemarajajar no 8, Yogyakarta.

Pada tahun 1927, eyang Sukirdjo sudah menjabat ajun jaksa di Kutoarjo. Sebagaimana keluarga pamong praja lain pada waktu itu, hampir 2 tahun sekali mereka berpindah ke kota lain sesuai tugas dinasnya. Tahun 1928, eyang dipindahkan ke Purwokerto sebagai sekretaris bupati. Menurut ceritanya, di Purwokerto sempat ada jalan yang diberi nama “Sukirdjo Laan” (mungkin sebagai penghargaan,  karena eyang dulu prestasinya cukup baik). Jalan tersebut sempat diubah namanya menjadi “Prinses Juliana Laan”, sebelum kemudian berubah nama lagi.

Dari Purwokerto, eyang pindah ke Banyumas dan tinggal di sana selama kurang-lebih 3 tahun. Pada saat itu eyang putri sudah memiliki 7 orang anak, dengan anak pertama masih duduk di kelas 6 SD. Putra-putri nya adalah sebagai berikut :
1.    Bapak Setiadi
2.    Ibu Indati
3.    Bapak Hudijono
4.    Ibu Oemijati
5.    Ibu Murniati
6.    Ibu Panuti
7.    Bapak Kusmadi

Eyang kemudian ditugaskan ke Kaliwungu (dekat Kendal), dan menjabat wedana, selama 6 tahun. Selama di Kaliwungu, eyang putri melahirkan 2 orang anak lagi, yaitu :
8.    Ibu Edi Retnati
9.    Bapak Bambang Darmadi

Setelah itu, eyang kembali lagi dipindahkan kembali ke Kutoarjo, juga menjabat sebagai wedana. Pada saat itu, putranya yang pertama -Bapak Setiadi- sudah menjadi mahasiswa di THS (sekarang ITB) di Bandung; putri keduanya -Ibu Indati- di Mulo Purworejo, putra ketiga –Bapak Hudijono- di HBS Semarang; putri keempat, kelima dan keenam –Ibu Oemijati, Ibu Murni dan Ibu Panuti- bersama dengan putra ketujuh –Bapak Kusmadi- bersekolah di ELS (SD Belanda) di Purworejo.
Pada tahun 1939, putra kesembilannya, Bapak Bambang Darmadi meninggal dunia karena penyakit malaria tropika, dan dimakamkan di Semawung, Kutoarjo, di samping makam Ibu Atmosedjono (ibu dari eyang Sukirdjo kakung)

Setelah Perang Dunia II, Belanda mundur dari Indonesia, dan tentara Jepang masuk. Keadaan menjadi kacau, karena sekolah-sekolah belanda ditutup. Putra-putri eyang sempat tidak dapat bersekolah, dan memanggil guru privat ke rumah. Setelah keadaan tenang kembali, mereka dapat kembali bersekolah. Pada saat ini, eyang sudah memiliki 3 orang putra-putri lagi, yaitu :
10.    Ibu Asiari
11.    Bapak Widardjono
12.    Ibu Ambinari

Tahun 1945, eyang Sukirdjo menjabat patih di Wonosobo. Sekitar 2 tahun kemudian, eyang dipindahkan ke Temanggung, juga sebagai patih. Pada waktu itu, putra tertua beliau, Bapak Setiadi, sudah terpilih sebagai Menteri Penerangan, pada usia 26 tahun. Dalam beberapa kali kunjungannya ke Temanggung sebagai menteri, Bapak Setiadi pasti menyempatkan sowan dan menginap di rumah orangtuanya sendiri.

Eyang Sukirdjo kemudian sempat pindah ke Demak dan kemudian ke Kudus, menjabat sebagai bupati di sana. Namun demikian, beberapa putra-putrinya tinggal di Jogjakarta, di Jalan Cemarajajar no 8, yang merupakan rumah keluarga (bekas rumah teman dari bapak Setiadi –putra pertama-).
Dari Kudus, eyang dipindahkan lagi, dan ditempatkan sebagai Residen, diperbantukan di kantor Gubernuran Semarang. Eyang putri kemudian memutuskan untuk menemani  putra-putrinya yang masih kecil, dan tetap tinggal di Cemarajajar, Jogjakarta.

31 Januari 2012

Telah berpulang : Ibu Hj Oemiyati Soenaryo

Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un

Telah berpulang ke Rahmatullah, Eyang, Ibu, Bude, Tante kita tercinta, Ibu Hj. Oemiyati Soenaryo, pada hari Kamis 19 Januari 2012 yang lalu. Kami seluruh Keluarga Besar Reksoprodjo merasa sangat kehilangan, dan mendoakan agar Almarhumah mendapat tempat yang mulia di sisi Allah SWT, diampuni segala dosanya, dan diterima amal ibadahnya. Amin YRA.

Almarhumah Ibu Oemiyati dilahirkan pada tanggal 30 Juli 1927 di Kutoarjo, sebagai anak keempat dari Eyang Sukirdjo Reksoprodjo. Beliau tamat Sekolah Asisten Apoteker bulan September 1945. Namun, karena tekadnya ingin sekolah di Fakultas Kedokteran, beliau ikut "kelas sore" untuk mengejar ijazah SMA, sambil bekerja di apotik. Akhirnya, beliau berhasil masuk sebagai mahasiswa kedokteran di Universitas Gajah Mada pada tahun 1950. Walau akhirnya tidak dapat menamatkan kuliahnya karena menikah dan harus pindah kota, mengikuti suami, Almarhumah tidak pernah duduk berpangku tangan. Beliau adalah seorang yang sangat produktif. Seluruh hidupnya dipenuhi dengan kegiatan dan usaha yang tidak ada hentinya... dan yang keseluruhannya diperuntukkannya untuk anak-anak, keluarga, agama dan masyarakat.

Sebuah buku biografi yang ditulisnya bersama dengan Bapak Soenaryo, merupakan buku yang sangat mencerminkan pribadinya. Sederhana, ulet, memberi tauladan, dan selalu bersyukur.
Banyak cerita-cerita yang memberikan gambaran tentang masa kecil beliau, dan tentu saja masa kecil orang-tua saya... cuplikan percakapan antara Almarhumah dan kakak-adiknya sewaktu sekolah, yang sangat 'hidup' dan menyegarkan... sisipan nasehat, hikmah mapun pelajaran hidup, yang sangat bermanfaat bagi pembacanya.  
Saya pribadi, sangat menikmati membaca bukunya... (dan sering saya baca berulang kali)

Selamat jalan, Tante Oem... Doa kami selalu untuk Tante....